1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Judul Halaman Saya

Monday, February 8, 2016

KLIPING ON LINE PSIS

logo SUARA MERDEKA

Selasa, 20 Juli 2002
 
TAMU MINGGU INI

"Saya Ini Orang Lama"

Joko Yogyanto SM/C16
ADA suasana baru di tubuh PSIS setelah Daniel Roekito terpilih sebagai pelatih. Suasana baru itu semakin kental terasa setelah Roekito membuat perubahan besar dengan memilih wajah-wajah baru sebagai pendampingnya.
Jabatan asisten pelatih, yang selama ini dipercayakan kepada Firmandoyo, dialihkan kepada Joko Yogyanto SH. Selanjutnya, pelatih fisik yang semula dipegang Drs Supriyadi, sekarang ditangani Drs Janu Ismanto MS.
Akan tetapi, pemunculan nama-nama itu tak urung menimbulkan sikap pro-kontra di kalangan pengurus. Terutama setelah Roekito memilih Yogi -panggilan akrab Joko Yogyanto- menjadi asistennya. Selama ini, nama itu memang tenggelam di bursa kepelatihan PSIS.
Suara sumbang pun muncul dan menuduh Yogi erat dengan pesan sponsor dan KKN pada saat nama Firmandoyo konon disebut santer sebagai masih satu-satunya calon kuat.
Tetapi kini kehadiran Yogi harus diperhitungkan lebih dalam. Sebab, Yogi yang telah mengantongi sertifikat pelatih S2 memenuhi persyaratan itu.
Apalagi mantan kapten tim PSIS 1979-1983 itu pernah mempunyai peran besar di tim. Waktu itu dia adalah pemain idola Gubernur Jateng Soepardjo Rustam (almarhum). Dia juga pernah dua kali memperkuat tim nasional, PSSI Banteng dan PSSI Putih.
Orang Lama
Dengan demikian, sebenarnya mantan asisten pelatih EA Mangindaan pada Pra-PON Jateng 1985 itu bukan orang baru. ''Saya ini orang lama,'' ujarnya ketika ditemui kemarin.

Ketika dipilih oleh Roekito untuk menjadi asisten pelatih, dia ragu. Sebab, dia tak pernah membayangkan sebelumnya. ''Waktu itu saya berpikir seperti sebuah paket. Jika pelatihnya si A, asistennya sudah pasti si B. Namun ternyata Pak Roekito memilih saya.''
Di dunia kepelatihan di Semarang, pengalamannya tidak diragukan lagi. Dia benar-benar merangkak dari bawah. Mulai dari menangani SSS, Klub OMJ, dan POP pada musim kompetisi yang bersamaan dengan hasil tak mengecewakan. Bahkan, OMJ dan POP dapat promosi ke Divisi I PSIS. ''Saya sadar, setelah terpilih ada yang tidak senang kepada saya tetapi ada juga yang mau menerima. Yang penting sekarang, mari berpikir jernih ke arah positif untuk bersama-sama memajukan PSIS.''
Sebenarnya duet dengan Roekito bukan kali pertama baginya. Pemain terbaik Galakarya di Medan 1985 itu mendampingi Roekito menangani tim Pra-PON Jateng 1983. Dan, kini dia menyatakan akan all out membantu Roekito.
Ketika masih menjadi pemain, alumnus Pendidikan Notariat Fakultas Hukum Undip tersebut dikenal karena banyak memiliki keistimewaan dibandingkan dengan pemain lain. Salah satu keistimewaan kapten tim kelahiran Klaten 4 April 1956 yang selalu menempati posisi gelandang bertahan itu, ada pada tendangan kaki kirinya.
Penonton sering dibuat kagum, ketika tendangan pisangnya dari sudut lapangan langsung menjebol gawang lawan. Karena tendangan-tendangannya yang berbau akrobatis tersebut, dua kali dia terpilih sebagai pemain terbaik.
Pertama, saat Turnamen Brasiljadi (Brawijaya, Siliwangi, Jayakarta, Diponegoro) di Bandung pada 1977 dan kemudian di Kejurnas Galakarya di Stadion Teladan Medan 1985.
Yogi juga dikenal sebagai pemain yang amat disiplin dalam berlatih. Tak jarang pada jam-jam tertentu ketika teman-temannya belum datang, dia sudah berlatih seorang diri di lapangan.
''Selama di Medan, tiga kali saya mencetak gol dari tendangan sudut. Mungkin karena itulah saya terpilih sebagai pemain terbaik,'' ungkapnya me-ngenang. Dan, kini di pundaknyalah masa depan PSIS diletakkan. Bersama Roekito, dia sangat diharapkan oleh publik sepakbola Semarang mampu mengangkat kembali nama harus PSIS di kancah persepakbolaan Tanah Air.(Mundaru Karya-43j)
 

No comments:

Post a Comment